Berita 15 Oktober 2025

Menapak Jejak Keikhlasan: Sejarah dan Perkembangan PP Al-Huda Peuteuyjaya

Didirikan pada 1971 M oleh KH. Aep Saepudin dengan empat santri pertama, kini PP Al-Huda Peuteuyjaya telah berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam berpengaruh di Tasikmalaya dengan ribuan alumni tersebar di seluruh Indonesia.

Di sebuah kampung yang dulu sunyi, di antara desir angin dan doa selepas magrib, lahir sebuah cita-cita yang tumbuh dari keikhlasan β€” Pondok Pesantren Al-Huda Peuteuyjaya, Desa Jayaratu, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya.

Tahun 1971 menjadi saksi ketika seorang alim bernama K.H. Aep Saepudin bersama istrinya, Hj. Ia Sumiati, menanam benih ilmu di tanah sederhana. Bekal mereka bukan kemewahan, melainkan keyakinan dan tekad yang tak pernah goyah. Dari pengajian anak-anak selepas magrib, berdirilah sebuah pesantren kecil. Empat santri pertama datang bukan karena undangan, melainkan panggilan hati β€” dari Leuwisari, Cigalontang, hingga Bekasi.

Nama Al-Huda, yang berarti "petunjuk", lahir dari usulan masyarakat, pertanda bahwa sejak awal pesantren ini tumbuh bersama cinta dan dukungan banyak pihak. Falsafah sang pendiri senantiasa menjadi kompas: "Air deras jangan dibendung. Sebab, semakin ditahan, semakin keras tekanannya. Tapi jika dialirkan dengan bijak, air itu akan menjadi berkah di tempat yang membutuhkan."

Seiring waktu, Al-Huda melangkah pelan namun pasti. Kini, di bawah kepemimpinan KH. Sihabul Millah sebagai Pimpinan Pesantren dan H. Abdul Muchlis sebagai Ketua Yayasan, Al-Huda telah menumbuhkan banyak cabang kehidupan: Madrasah Diniyah, SMP Al-Huda (2005), dan SMK Al-Huda. Ribuan alumni yang tergabung dalam wadah IKASANDA tersebar di berbagai daerah, membawa semangat Al-Huda ke mana pun mereka berpijak.

"Nilai yang paling diwariskan adalah akhlakul karimah, sebab dari situlah segala ilmu akan menemukan cahayanya," tutup H. Abdul Muchlis.

Bagikan:

WhatsApp